www.tribunsatu.com
Galeri Foto - Advertorial - Pariwara - Indeks Berita
 
Kelompok Petani Kecewa Pada Pengelolaan Lahan Oleh PT.MAS.di Bengkalis
Minggu, 28-11-2021 - 15:31:18 WIB
TERKAIT:
   
 

Bengkalis Riau, Saptu 27.11.2021. Rasa kekecewaan yang memuncak petani sawit yang sudah keluar dari keanggotaan Koperasi Meskom Sejati (KMS) dikarenakan PT.Meskom Agro Sari mas, tidak ada ketransparan serta kejelasan lahan maupun dalam pembagian hasil yang dikelola oleh Koprasi tersebut selama ini.aksi ini diekspresikan dengan mengambil alih lahan kebun sawit dari beberapa kelompok petani yang selama ini dikelola oleh PT. Meskom Agro Sari mas tersebut selama belasan tahun. Lima (5) dari delapan (8) desa petani sawit tersebut pada hari Sabtu 27 November 2021 sekira pukul 11.00 WIB tiba di kantor plasma tiga (3) atau lebih tepatnya di blok 12 – 29.

Terpantau sekitar 200 orang petani datang dengan membawa spanduk dan meminta para pekerja PT. Meskom Agro Sarimas (PT. MAS) agar menghentikan segala aktifitasnya.

Ketika ditanya awak media ," siapa yang menjadi koordinator lapangan, “kami atas nama diri kami masing-masing. Tidak ada koordinator, sponsor atau provokator disini. Besar harapan kami semoga pak Jokowi selaku Presiden kami mau mendengar dan membantu kami. pak Jokowi di Bengkalis – Riau pulau terluar yang barusan bapak kunjungi masih ada rakyat jelata yang menjerit dan menangis. dimata kami pak Jokowi adalah presiden rakyat jelata, presiden kami. mohon bantu kami pak,” ungkap izan dengan miris.

“kami kesini dengan segudang kekecewaan terhadap KMS dan PT. MAS. Soal hukum pidana sudah kami laporkan ke Mapolda Riau. Tanpa meragukan pihak Polda Riau, hari ini kami ambil alih lahan kami karena sudah 11 bulan kami tak dapat uang bagi hasil dan sisa hasil usaha yang seharusnya sudah kami terima dari perusahaan dan koperasi. Apalagi ini kami lihat sendiri kebun ini hasilnya banyak dan terus saja dipanen oleh pihak PT. MAS. disisi lain kami hanya dikasikan janji-janji manis. ke depannya kami akan mengundang auditur untuk mengaudit soal keuangan dan perpajakan koperasi dan jika bisa sampai ke perusahaan. Bahkan kami akan minta tim ahli perkebunan memeriksa apakah kebun kami sudah diurus sebagaimana mestinya,” tambah izan patani sawit dari desa Bantan Tua.

“Kami sudah surati banyak hal, mulai dari minta penjelasan dan minta dokumen-dokumen yang menjadi hak kami tapi tak mereka berikan. mediasi juga sudah kami jalani lebih dari 2 kali tapi tak ada satupun mereka akomodir. kami ini pemilik lahan, kami ini mitra perusahaan, kami ini bukan buruh, bukan mengemis disini. kami minta hak-hak kami. Koperasi yang seharusnya mengurus dan membela kami malah mengabaikan dan ikut menyesatkan kami, papar Alif petani sawit dari Teluk Latak.

“Lihatlah pak, kebun kami ada buahnya. 1 jam saja kita duduk disini sudah 3 ponton. ini baru dari sebagian ponton pak,” kesal pak Toiman petani sawit desa Jangkang dengan sedih.

“Kami awali dengan doa bersama karena ini aksi membela hak kami, bukan mencuri hak orang lain. perihal yang katanya ada perjanjian antara perusahaan dan koperasi yang tidak melibatkan kami maka silahkan mereka pertanggungjawabkan sendiri. Dan setelah kami keluar dari keanggotaan Koperasi Meskom Sejati, pertama kali yang kami tawarkan kemitraan pengelolaan lahan kebun kami adalah kepada PT. MAS sendiri. Hal ini kami tawarkan langsung kepada pak Gunawan selaku direktur. Namun beliau menolak dengan alasan hanya mau bekerjasama dengan Koperasi Meskom Sejati. Artinya kami masih menghargai PT. MAS makanya memberikan tawaran kepadanya dan itu hak perusahaan untuk menolak, dan sekarang juga hak kami untuk mengambil sikap demi menyelamatkan kebun kami dan nafkah kami,” ucap Ruslan petani desa wonosari.

“semoga dengan aksi ini kami bisa terlepas dari hutang-hutang yang dibebankan ke kami tanpa persetujuan kami, karena kami akan kelola sendiri kebun kami,” ucap Aris petani desa Pedekik.

Sementara keterangan dari para pekerja perusahaan di lapangan yang tak ingin disebutkan namanya, “minimal sudah 3 tahun kebun sawit masyarakat ini tidak dipupuk. Kami juga heran pak. untuk apa ada tanaman tapi tak dipupuk. hanya ambil buahnya saja,” ungkap pekerja inisial R.

“ini kantor plasma 3 pak. Disini tempat lewatnya buah dari plasma 2,3,5 dan plasma 6 (Desa Jangkang, Bantan Tua, Wonosari, Teluk Latak dan desa Sebauk),” ungkap A salah satu pekerja lapangan perusahaan PT. MAS.

“Ada 8 ponton yang bolak balik lewat di kanal depan kantor plasma 3 ini. Masing-masing ponton dengan kapasitas 9 ton tandan buah segar. Jam operasionalnya dari jam 07.00 WIB – 17.00 WIB setiap hari dengan produksi diatas 10 ponton/hari atau diatas 100 ton/hari,” tambah A.

“Sebenarnya kami juga memahami apa yang dirasakan oleh para petani pemilik lahan ini pak. Karenanya kami memaklumi, bahkan dari hati kecil kami, kami mendukung. apalagi para petani ini juga saudara-saudara kami dan sekampung dengan kami. Terlebih lagi kedatangan mereka tidak ada sedikitpun kekerasan, bahkan melakukan doa bersama. Kami terharu pak,” ungkap D yang juga salah satu pekerja PT. MAS.

Sembari pulang para petani pemilik lahan juga membawa buah sawit dengan menggunakan ponton untuk ditumpukkan di perbatasan tanah plasma dan lahan masyarakat non plasma.

Hingga para petani pemilik lahan sawit membubarkan diri pada pukul 15.00 WIB terpantau oleh awak media visiindonesia.com ada sekitar 6 ponton sarat tandan buah segar sawit yang ditahan para petani.

Dan disayangkan tidak ada satupun perwakilan Koperasi Meskom Sejati maupun pihak PT. Meskom Agro Sejati yang hadir sehingga tidak dapat dimintai keterangan dan penjelasan baik kepada para petani maupun kepada awak media.Red( Jef /Lensa riau)



 
Berita Lainnya :
  • Kelompok Petani Kecewa Pada Pengelolaan Lahan Oleh PT.MAS.di Bengkalis
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Tokoh - Opini - Galeri - Advertorial Indeks Berita
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2016-2020 PT. HESTI TRIBUNSATU PERS, All Rights Reserved