www.tribunsatu.com
Galeri Foto - Advertorial - Pariwara - Indeks Berita
 
DUA KELOMPOK NELAYAN BERJUAL ARGUMENTASI, LALU APA YANG BISA PEMDA LINGGA LAKUKAN?
Selasa, 30-11-2021 - 08:34:11 WIB
TERKAIT:
 
  • DUA KELOMPOK NELAYAN BERJUAL ARGUMENTASI, LALU APA YANG BISA PEMDA LINGGA LAKUKAN?
  •  

    Lingga,m.tribunsatu.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Bapak Sakti Wahyu Trenggono dengan tegas menyatakan perinsip beliau “Salah satu janji lain yang saya tunaikan, melarang alat penangkapan ikan yang tidak mendukung ekologi laut,Bagi saya, antara EKOLOGI dan EKONOMI bukanlah untuk dipertentangkan, tapi diatur sedemikian rupa agar bisa beriringan,” demikian tegas Trenggono melalui keterangan tertulisnya, pada Jumat (2/7/2021) lalu.


    Statement Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut bukanlah satu sarana pemicu untuk lahirnya satu perpecahan,mari kita lebih membuka pikiran untuk berpikir jernih dan sehat,EKOLOGI laut perlu untuk diperhatikan kelestariannya karena menyangkut perkembangan habitat laut yang perlu juga dijaga kelestariannya terutama terhadap ekosistem laut seperti terumbu karang,rumput laut dan plangton plangton lainnya,lalu disisi EKONOMI juga sangat perlu dipikirkan bagaimana cara memperolehi ekonomi untuk menciptakan kehidupan yang baik dan menjamin buat keluarga,tetapi mari juga dipikirkan dalam memperolehi sumber pendapatan ekonomi dengan tidak merusak,apa lagi kegiatan yang dapat mengganggu pihak lain dalam perolehan sektor ekonomi yang sama sama dibutuhkan.


    Untuk menjawab semua persoalan itu mari kita simak permasalahan yang terjadi,yang paling mendasar dan yang kerap kali sering kita dengar.
    Berikut argumentasi para nelayan tangkap yang menggunakan penangkapan hasil laut dengan cara memakai kapal motor pukat trol atau pukat cantrang,apa kata mereka "Kami bekerja dengan cara melakukan penangkapan udang dan ikan dengan cantrang atau pukat trol ini demi mencari sesuap nasi,keluarga kami butuh makan untuk hidup,anak anak kami butuh pendidikan dan segala macam,sementara apa yang diberikan pemerintah kepada kami?" ya sepintas bisa diterima alasan tersebut,tapi terkesan cukup dramatis dan ada kesan egoisme dalam kalimat mereka yang kedengaran cukup bijaksana untuk menghidupi keluarga,tapi disatu sisi ada juga nelayan yang berkeluh kesah atas kegiatan mereka para nelayan pukat trol itu yang jumlahnya tidak seberapa jika dibanding dengan jumlah nelayan tangkap selain dari kegiatan pukat centrang atau pukat trol tersebut.


    Lalu mari pula kita simak pernyataan dari nelayan yang menangkap hasil laut dengan pola tradisional,apa kata mereka "Kami tidak tau mau mengadu kemana,mengadu kepemerintah juga percuma karena tidak ada solusinya,sia sia saja,alat alat tangkap kami seperti bubu ikan,bubu ketam,jaring ikan,jaring ketam dan rawai ikan tidak aman kami biarkan dilaut,sering rusak bahkan banyak yang hilang karena terseret oleh pukat pukat harimau atau pukat pukat trol yang setiap malam narik pukat diarea tempat kami melabuh dan merentang alat alat kami tersebut, jangankan untuk mendapat hasil malah alat kami rusak bahkan lenyap,kalau begini terus,bisa bisa kami kelaparan" dan banyak lagi ucehan kekecewaan mereka itu kalau mau ditulis disini.


    Dari cerita yang kami kisah ini dan sesuai fakta hasil investigasi yang kami lakukan dilapangan,melalui berita hari ini,harapan kami selaku insan pers yang sejogyanya sebagai insan yang berperan untuk menyampaikan berita lkepada publik agar mengetahuinya, kami juga berharap agar pemerintah dalam hal ini Pemerintah Provinsi Kepri maupun Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas masing-masing agar bersikap tegas,arif dan bijaksana dalam menyelesaikan perbedaan ditubuh usaha para nelayan tersebut demi terciptanya keadaan yang kondusif,jika hal ini tidak segera diambil langkah yang tepat maka dikhawatirkan akan terjadi tindakan tindakan anarkis seperti beberapa waktu yang lalu sudah berapa unit kapal motor pukat cantrang ini ditangkap lalu dibakar warga, mungkin masih terbayang dan terngiang diingatan kita kejadian beberapa kali di Desa Tanjung kelit,dan sudah berapa unit kapal motor pukat trol yang diludes api didesa tersebut? apakah hal seperti ini hanya didiamkan saja?.



    Semoga kabar berita yang kami angkat ini dapat didengar oleh pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan RI atau pihak lembaga terkait dalam bidang ini yang berada dipusat,bantulah menyelesaikan persoalan daerah ini.
    Untuk menuntaskan persoalan ini,kami akan terus melakukan investigasi langsung dilapangan, untuk menyampaikan kabar dan bisa untuk jadi pengetahuan Tuan tuan didinas terkait, sebab bebarapa waktu yang lalu kami pernah konfirmasi langsung kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.Lingga diruang kerjanya Bapak Kasiman.


    Kadis Kelautan dan Perikanan sampaikan kepada kami atau Media beliau menyampaikan tentang keterbatasan personil dan tenaga atau minimnya pegawai, sehingga mereka tidak dapat mengkafer seluruh kegiatan nelayan dilapangan dan beliau meminta kami untuk membantu memantau kejadian dilapangan dan itu kami lakukan dengan suka rela dan dengan bermodal tanggung jawab untuk menjernihkan segala persoalan dan kami lakukan dengan tulus ikhlas walau terkadang kami harus berhadapan dengan persoalan persoalan yang rumit bahkan dengan persoalan keselamatan,namun demi untuk tujuan kebaikan,kami tetap terus bekerja apapun resikonya,maka inilah sebagian hasil dari apa yang telah kami input dari pekerjaan kami selaku kuli tinta dilapangan,senin (29/11/2021)

    Sumber : Globaldrafnews.com/Surya
    Berita. : EDI / KABIRO LINGGA



     
    Berita Lainnya :
  • DUA KELOMPOK NELAYAN BERJUAL ARGUMENTASI, LALU APA YANG BISA PEMDA LINGGA LAKUKAN?
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
     
    Tokoh - Opini - Galeri - Advertorial Indeks Berita
    Redaksi - Disclaimer - Pedoman Berita Siber - Tentang Kami - Info Iklan
    © 2016-2020 PT. HESTI TRIBUNSATU PERS, All Rights Reserved